Kamis, 03 November 2011

Hanna (2011) - Review


Hanna (2011)
Release Date: 8 April 2011 (USA)
Genre: Action, Mystery, Thriller
Cast: Saoirse Ronan, Eric Bana, Cate Blanchett
Director: Joe Wright

Pagi ini harus ada di Kantor jam 7 pagi, persiapan karena bos saya harus meeting jam 10. Setelah komputer kerja saya dinyalakan, tiba-tiba DVD ROM memutar adegan seorang cewek blonde sedang berlarian. Penasaran saya buka finder ternyata ada DVD dengan judul “Hanna” di dalamnya. Pas banget karena ibu bos pergi meeting. Sebelum memulai pekerjaan, nggak ada salahnya dong saya nonton film ini yang berdurasi sekitar 1 jam 46 menit ini :) (Salah dong, jam kerja kok malah nonton DVD :p)

Film ini dimulai dengan adegan seorang anak kecil yang tengah memburu rusa di dalam sebuah hutan yang diselimuti salju. Anak kecil itu bernama Hanna (Saoire Ronan), seorang gadis yang dilahirkan di fasilitas riset di Polandia, Galinka. Embrio Hanna adalah hasil fertilisasi yang diberi sedikit perubahan untuk meningkatkan kekuatan otot, menambah kepekaan, mengurangi rasa iba dan takut. Embrio Hanna dipersiapkan untuk menjadi soldier.

Karena merasa keamanan puterinya terancam, Eric Heller (Eric Bana), seorang mantan agen CIA, mengasingkan puterinya dan melatihnya di sebuah hutan di Finlandia. Eric mempersiapkan Hanna untuk sebuah misi yang Hanna sendiri tidak tahu. Dia hanya diberitahu kalau ia harus membunuh Marissa Wieglr (Cate Blanchett). Marissa tidak akan berhenti mengejarnya sebelum Hanna mati. Maka pilihannya: Hanna atau Marissa yang mati.

Ada beberapa scene yang nggak penting sih di film ini, seperti hanya untuk menampilkan sisi manis si Hanna aja. Tapi secara keseluruhan film ini seru dan menegangkan dan saya kagum sosok Hanna yang manis, cantik dan tangguh. :)

Citra Pramana
Twitter: @_citz



AWARDS

World Soundtrack Awards
Nominated
2011 - World Soundtrack Award - Discovery of the Year (Ed Simons, Tom Rowlands)

Rabu, 02 November 2011

Bicycle Thieves (1948) - Review

Bicycle Thieves (Ladri di biciclette) (1948)
Release Date: 13 December 1949 (USA)
Genre: Crime, Drama
Cast: Lamberto Maggiorani, Enzo Staiola and Lianella Carell
Director: Vittorio De Sica

Hipotesis kedua saya: film-film dengan setting perang atau pasca perang adalah film-film yang paling mengusik nurani manusia.

Penyesalan mendalam saya rasakan usai menyaksikan film ini. Sama sekali bukan karena jelek, melainkan rasa yang tersisa ketika film selesai. Dan memang seharusnya seperti itulah film yang bagus: penonton sendirilah yang ‘menuntaskan’ film, bukan sang sutradara.

Antonio Ricci adalah sedikit dari ribuan orang di kota Roma yang sangat membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidup. Di tengah ekonomi yang amburadul pasca perang usai, pekerjaan yang tersedia sangat terbatas.

Keberuntungan menghampiri Antonio. ia terpilih untuk menjadi penempel poster di dinding-dinding kota. Satu syarat yang membuatnya pusing: ia harus memiliki sepeda. Tidak ada sepeda, tidak ada pekerjaan.

Maria, istri Antonio tak kehilangan akal. Ia menggadaikan sprei dan selimut mereka, uangnya digunakan untuk membeli sepeda bekas. Antonio, Maria, dan putra pertama mereka, Bruno sesaat menjadi orang-orang paling bahagia di dunia. Selanjutnya, saya tidak tega untuk merusak cerita.

Perhatian khusus saya sematkan kepada Enzo Staiola yang berperan sebagai Bruno Ricci. Saya tidak pernah melihat antusiasme dan kegigihan seorang anak kecil dalam sebuah film. Tiada banding!

Fakta yang mengejutkan lagi bahwa sang sutradara, Vittorio de Sicca tidak menggunakan aktor professional dalam film-filmnya. Pemeran utama “Bicycle Thieves”, Lamberto Maggiorani adalah seorang pekerja pabrik. Setelah kesuksesan film ini, ia kehilangan pekerjaannya di pabrik dan ‘terpaksa’ menjadi aktor sepenuhnya.

Pemilihan judul “Bicycle Thieves” ini sangat brilliant, karena memang ada dua (pihak) pencuri sepeda. Pencurian kedua inilah bagian yang paling mengguncang dari film ini. Tidak berlebihan jika banyak pihak yang menganggap inilah salah satu karya sinema terbaik dari italia sepanjang masa. Sederhana, namun sangat mengena.

Thirdi Canggi
Twitter: @canggi

Selasa, 01 November 2011

Sita Sings The Blues (2008) - Review


Sita Sings The Blues
Release Date: 12 August 2009 (France)
Genre: Animation, Comedy, Fantasy
Cast: Annette Hanshaw, Aseem Chhabra, Bhavana Nagulapally, Manish Acharya, Reena Shah, Debargo Sanyal
Director: Nina Paley

Mengobrol bersama teman-teman di sebuah kedai kopi di rest area tol jagorawi, tempat yang cocok untuk pelarian karena jauh dari keramaian. Sambil menikmati musik jazz blues era 1920-an tiba-tiba teman saya, @vennyoepit, teringat satu film unik dan menyuruh saya untuk menonton film tersebut. Judulnya “Sita Sings The Blues”.

Sita, atau Shinta, adalah istri Rama dalam kisah Ramayana, salah satu epik terbesar sepanjang masa. Kesetiaan Sita kepada suaminya ia pertahankan meskipun Rama kehilangan kepercayaan kepadanya. Terlebih ketika Rama menganggap anak yang dikandung Sita adalah bukan anaknya.

Kisah Ramayana tersebut berparalel dengan kehidupan Nina dengan Dave dan kucing mereka, Lexi, di jaman modern. Suatu saat, Dave harus terbang ke India untuk pekerjaannya dan harus meninggalkan Nina dan Lexy di San Francisco. Ketika Nina dan Lexi menyusulnya, sikap Dave berubah. Pesan terakhir, “Don’t come back. Love, Dave”. Nina dan Lexi putus asa. Nina akhirnya menemukan kehidupan barunya kembali setelah membaca buku “The Ramayana”.

Film ini sebenarnya terpusat pada satu orang bernama Nina Paley. Bagaimana tidak, mulai dari penulis cerita, produser, editing, hingga sutradara, perempuan kelahiran 3 Mei 1968 itu melakukan semuanya! Kekaguman saya makin menjadi dengan cerita yang ditulis Nina yaitu munculnya tiga narator India berbentuk wayang dalam mengantarkan cerita. Perdebatan mereka terdengar konyol dan menggelitik ketika masing-masing mempertahankan pendapatnya.

Animasi yang ditampilkan menurut saya luar biasa. Penuh warna, unik, dan menghibur. Rama, digambarkan pria gagah berwarna biru seperti Avatar sedangkan Sita mengingatkan pada sosok Betty Boop – namun ini dengan dada yang membusung. Dan sesuai judul filmnya, Sita melantunkan nyanyian-nyanyian bernuansa jazz blues tempo dulu yang diisi oleh rekaman penyanyi jazz Annette Hanshaw (1901-1985). Sangat klasik dan cocok dengan penggambaran Sita di film itu.

Lewat film “Sita Sings The Blues”, Nina Paley mampu membuktikan animasi karyanya tidak kalah memesona dibandingkan nama besar Pixar. Epik kuno yang ditabrakkan dengan kreatifitas kontemporer diramu bersama cerita yang cerdas dan menghasilkan karya menawan.

Koko Anggoro
Twitter: @guekoko




AWARDS

Annecy International Animated Film Festival
Won
2008 – Cristal – Best Feature (Nina Paley)

Berlin International Film Festival
Won
2008 - Crystal Bear  Special Mention - Generation 14plus - Best Feature Film (Nina Paley)

Chlotrudis Award
Nominated
2010 - Best Production Design

Denver International Film Festival
Won
2008 – Emerging Filmmaker Award (Nina Paley)

Gotham Award
Won
2008 - Best Film Not Playing at a Theater Near You (Nina Paley - director, producer)

Independent Spirit Award
Nominated
2009 – Someone to Watch Award (Nina Paley)

San Fransisco Film Critics Circle
Won
2009 – Special Citation